Sudah 3 tahun aku mencintainya, tapi rasa ini tak pernah bisa hilang walaupun beribu kali dia melukai hatiku. Namaku Wanda aku siswa kelas IX di SMPN 49 Malang, panggil saja dia Reno cowok yang aku anggap sangat keren, namun dia memiliki kepribadian yang sangat buruk. Entahlah kadang aku berpikir aku gila, bagaimana bisa aku mencintai orang macam itu. Suatu hari aku melihat Reno murung, entahlah aku bingung harus bagaimana, selama 3 tahun terakhir ini aku tidak pernah menyapanya, apalagi mengobrol dengannya, hal ini di mulai saat aku dan dia kelas VII,tidak sengaja aku mengatakan perasaanku ke dia, akhirnya diapun menjauh begitupun denganku. Aku malu jika harus menatap matanya, rasa gemetar dalam tubuhku saat bersamanya membuatku menahan rasa cinta selama ini. Kutinggal dia pergi tanpa sempat menyadari keberadaanku, dalam hati aku berkata, seharusnya aku bisa menghiburnya. Tapi sudahlah aku tidak bisa melakukan itu, bel masuk berbunyi seluruh siswa segera masuk kelas, saat guruku datang Reno belum hadir di kelas, tak ada satupun orang yang mengetahui di mana dia kecuali aku. Aku tetap diam sampai guruku menyuruh Dika untuk mencari Reno. Tak beberapa lama kemudian Dika datang bersama Reno, aku memandang wajah Reno, tapi ketika dia melihatku, segera ku palingkan mukaku darinya.
Dua hari lagi UN akan
dilaksanakan, anak-anak bukannya belajar malah asik bergosib, kudatangi mereka,
dan aku mendengar bahwa Reno akan menebak Nadya setelah UN dilaksanakan. Aku
menahan diriku agar tidak goyah, namun ketika pulang sekolah aku melihat
segerombolan teman kelasku berjalan. Dan di tengah-tengah mereka, kulihat Reno
menggandeng tangan Nadya, aku menahannya, tapi tak lama kemudian air mataku
menetes, segera aku lari ke kamar mandi belakang perpustakaan, aku menangis
disana menyesali semua yang aku lakukan. Tak ada seorang pun melihat ku
menangis disana. Handphone ku berdering, ternyata tanteku sudah dalam
perjalanan menjemputku. Ku hapus air mataku dan keluar menuju gerbang sekolah
menunggu jemputan, tiba-tiba seseorang menghampiriku, namanya Vira, dia
melihatku mataku merah. Kemudian semua temanku lain kelas, berkumpul dan
menanyaiku, aku tak bisa menahan air mataku. Aku menangis dan aku menceritakan
semuanya pada mereka. Aku disuruh bersabar dan mereka menghiburku, aku mencoba menghapus
air mataku dan tersenyum di depan kamera ketika mereka memintaku untuk berfoto.
Beberapa menit kemudian tanteku datang, untunglah mataku sudah tidak merah
lagi, aku tersenyum di hadapannya. Dan segera pulang untuk menjemput ibuku yang
ada di rumah temannya.
UN sudah selesai, dan Reno belum
menembak Nadya, pikirku semua yang ada di pikiranku adalah gosib biasa. Tapi
tepat pada saat maulud nabi, tak kusangka aku memakai baju yang sama dengan
Reno, dia terus melihatku. Sudahlah aku
tak ingin berharap banyak padanya, jadi ku putuskan untuk segera pulang. Ke
esokan harinya aku main ke rumah temanku, seperti yang biasanya aku lakukan
setiap hari minggu, kami bermain, memasak, foto bersama dan bersepeda. Setelah
capek dengan kegiatan yang sudah kami lakukan, aku meminjam Handphone Rika
untuk melihat foto-foto yang tadi, tak sengaja aku melihat foto Reno yang sedang berlutut memohon cinta
dari Nadya, aku terdiam tanpa kata-kata. Segera kututup Handphone itu dan ku letakkan,
aku bertanya pada Rika kapan foto itu diambil, dan dia menjawab, pada saat hari
maulud nabi sepulang sekolah. Tak kusangka teman-temanku mengetahui ini semua
dan merahasiakannya dariku, tapi aku berpikir sejenak dan bersyukur karena pada
saat itu aku sudah pulang, coba bayangkan kalau aku belum pulang entah apa yang
akan terjadi padaku.
Setelah kejadian itu aku murung
dikamar, aku mendapat kabar bahwa akan
diadakan pertandingan futsal antar kelas sebagai perpisahan. Aku memutuskan
untuk tidak datang, karena aku yakin kelasku akan kalah ketika hatiku sedang
hancur, entahlah aku selalu percaya pada kata hatiku. Tapi beberapa menit kemudian Vira menelponku dan memintaku
untuk menemaninya pergi melihat acara itu, aku menolaknya dengan berbagai alasan,
tapi dia tetap saja memaksaku. Akhirnya akupun ikut bersamanya, toh dia nggak tau apa
yang sedang terjadi, karna dia bukan teman sekelasku. Begitu aku sampai disana,
ternyata kelasku sedang main, Reno langsung mencetak gol menyambut
kedatanganku. Tapi aku tidak pergi duduk dengan teman sekelasku, karna aku tau
Nadya akan datang, jadi aku tetap duduk bersama Vira dan teman-temannya.
Seketika aku melihat Nadya datang dan temanku mulai menyoraki nama Reno dengan
Nadya, aku melihat dan mendengarnya dia tersenyum kepada Nadya begitupun
sebaliknya. Hati yang aku jaga agar tetap tegar kini hancur bagai kertas yang
terbakar, aku menundukkan kepalaku dan menahan air mataku agar tidak keluar,
entah apakah Reno melihatku atau tidak tapi disaat itu kelasku kebobolan gol
beruntun dari 3-1 ketika kedatangan Nadya menjadi 6-1, aku sudah menyadari ini
dari semalam, tapi sudahlah akhirnya aku melihat kekalahan kelasku untuk
pertama kalinya.
Tim kelasku segera bubar,
begitupun dengan temanku yang sedang duduk menonton pertandingan itu. Tapi ku
tahan langkahku untuk menghampiri kelasku sampai ada yang bilang aku lupa
teman, tapi itu kulakukan agar aku tidak menangis di hadapan mereka. Aku tetap
duduk dan melihat pertandingan dengan teman-teman Vira. Kelas Vira pun akhirnya
kalah dan kami segera pulang, dengan separuh hati aku meninggalkan acara itu.
Sempat di pejalanan ada teman sekelasku yang berteriak ; wanda lupa teman ;
tapi biarlah, pikirku. Aku pun pulang dan sesampainya di rumah aku memutuskan
untuk tidak pergi ke sekolah lagi karena tidak ingin berteme dengan Reno, toh
UN sudah selesai jadi bukan kewajiban lagi untuk pergi ke sekolah. Hatiku
hancur meratapi keadaan cintaku yang rapuh, aku terus mencoba menguatkan diriku
untuk dapat bertemu dengan Reno ketika diwajibkan masuk nanti.
Hari ini pembagian SKHUN jadi aku
harus masuk sekolah. Sesampainya di sekolah tidak ada teman sekelas yang
menyapaku, selain Yuli jadi di kelas aku hanya mengobrol dan berbincang bersama
Yuli, ku kuatkan hatiku melihat Nadya yang lewat di depanku, ketika Yuli
bertanya kepada Nadya tentang hubungannya dengan Reno, Nadya bilang mereka
sudah putus tapi dia tidak memberi tau apa alasanya. Jadi aku tetap diam dan
pura-pura tidak mendengarnya, dalam hatiku entah mengapa tapi aku senang
mendengarnya. Aku bahagia sekali dan menceritakannya kepada Vira. Tepat
besoknya adalah hari perpisahan kelas IX yang akan di laksanakan di gedung
Pandan Arum Malang. Aku di make up pakai kebaya, sedangkan para lelaki memakai
jas, setiba di sana aku duduk dan menghampiri teman-temanku yang sudah lama
menungguku, aku sangat ceria dan kuat pada hari itu, sampai tiba-tiba Reno
datang dan duduk tepat di belakangku, aku sempat melihatnya sekilas tapi aku
tidak berani lagi menengok ke belakang jantungku deg-degan, rasanya aneh
sekali, selama acara berlangsung aku tidak menoleh ke belakang. Entahlah aku
berpikir kenapa dia tidak duduk di belakang Nadya kenapa malah dibelakangku.
Setelah acara selesai ingin rasanya aku berfoto dengan Reno karna ini
kesempatan terbesarku, tapi aku tidak tega melihat Nadya, akhirnya aku
menghampiri Nadya dan menawarinya berfoto bersamaku, ternyata dia mau dan
mengajakku untuk berbaikan, karna sebentar lagi kita akan pisah dan tidak
bertemu. Setelah foto dengan Nadya aku bergegas pulang menghampiri ibuku, tanpa
memberi kesempatan untuk temanku yang lain mengajakku berfoto termasuk
Reno.

No comments:
Post a Comment